cerpen

Si Mbarep yang tak pernah ada | Chapter 1 – siapa dia?

Chapter 1 – siapa dia?

sore itu saya sedang dalam perjalanan pulang, entah pulang dari apa. yang pasti saya harus melewati jalan itu jika saya akan menuju kost-an saya. yang saya ingat saya pernah tinggal di tempat tersebut, dulu.

jam di hape saya menunjukkan pukul 17.00 WIB. saya meihat di kanan kiri saya sudah bekabut nampaknya ini pegunungan. belum ada listrik yang menjamah desa tersebut. Di sekeliling hanya ada obor yang sesekali saya lihat. “huff…kenapa saya harus lewat jalan ini..saya benci tersesat” batin saya.

kemudian saya memberanikan diri untuk bertanya, ke arah mana saya harus berjalan, kebetulan di dekat jalan yang saya lewati ada balai desa. entah ada orangnya apa tidak karena jam 17.00. ketika saya masuk eh ternyata ada orangnya. Beberapa orang sedang merenofasi gedung balaidesa tersebut. Memang gedung tersebut sudah kelihatan usang. Cat di dinding itu pun sudah mulai mengelupas. “Eh nak Diaz silahkan masuk” sambar pak Hartono (seolah-olah di saat itu saya ingat, memang namanya pak hartono, tetapi kalau disamakan dengan aslinya, kepala desa itu bukan Hartono). pak Hartonno yang selanjutnya saya sebut pak Har ini salah satu pengurus desa yang menjabat sebagai kepla Desa (lurah). “ada apa nak diaz tumben” lanjut beliau. “gini pak ini kan sudah sore,, saya harus balik ke kos, tapi saya ga tau jalannya ni pak, mana serem lagi”. “oo gitu tenang saja ga da papa kok, santai, biar nanti pak Buh yang ngantar sampai jalan”. Hah, pak Buh? siapa lagi tuh pak Buh? nama yang aneh ya tapi apa boleh buat yang saya dengar memang seperti itu. tapi yang saya ingat pak Buh ini masih ada hubungan darah. Entah itu kakaknya atau adeknya, lah ga tau lah yang penting saya bisa pulang.

Beberapa saat kemudian pak Buh datang. Mengenakan kaos berkerah warna coklat kehitaman plus sarung kotak-kotak warna hijau. “tolong antar nak Diaz sampai jalan raya ya..” perintah pak lurah kepada pak Buh. “siap ndan” jawab pak Buh. “ayo brangkat”  .. . sepanjang perjalanan memang gelap sekali. Kanan dan kiri hutan bambu yang luas, diperparah dengan kondisi jalan yang sudah rusak, seperti sungai yang sudah asat. makanya saya tidak menggunakan sepeda motor. “pakai senterku aja pak Buh” ndilalah tadi siang saya beli senter di tukang obral. Walaupun harganya murah, tapi senter ini memiliki berbagai macam fungsi. Seperti lampu penerangan saja ada dua macam. Penerangan jarak jauh dan jarak dekat ditambah dengan radio lagi. “ini gimana cara makenya” tanya pak Buh. “O . . ini gini pak, kabelnya harus dimasukin sini dulu” saya menerangkan cara kerjanya. Yang jadi pertanyaan saya adalah kenapa senter harus dimasukan dulu kabelnya. Di mana-mana kalau senter ya tinggal pencet trus nyala gitu. aneh.

semkin menggunakan senter, keadaan menjadi semakin seram saja. Karena yang tadinya gelap, sekarang menjadi terang. keadaan sekeliling menjadi lebih jelas terlihat. begitu juga apabila ada penampakan. tapi karena ada pak Buh saya menjadi sedikit lega.

setelah satu jam perjalanan akhirnya saya sampai di jalan raya. “trimakasih pak Buh sudah mengantar saya, setelah ini saya naik bis saja” “oke sama-sama , , ini senternya saya bawa ya” “ya gapapa bawa aja pak”

esok harinya. saya harus lewat jalan itu lagi. kenapa ya , , trus saya tadi berangkatnya lewat mana?.Lagi- lagi saya harus ketemu pak lurah buat nganter. karena belum apal jalan. belum sampai di balai desa saya bertemu pak Buh. “nak Diaz maaf ya senter yang kemarin rusak, karena terjatuh sewaktu perjalanan pulang kemarin” “o gapapa pak Buh” aduh gimana pulangnya nih (batin saya). “tapi tenang saja nak Diaz, sekarang lagi dibetulin sama anak saya” hah? anak? apa pak Buh punya anak? “dia sekolah di ITB” lanjut pak Buh. syukur deh. kalau senter itu ga jadi, wah bisa gawat nih perjalanan pulang.

akhirnya saya diajak ke rumah pak Buh yang tidak jauh dari jalan itu. Rumahnya sederhana namun bersih. saya bisa melihat pemandangan yang bagus sekali dari belakang rumahnya. karena lokasinya yang cukup tinggi, saya bisa melihat kota Semarang dari sini. di sampingnya terdapat satu pohon sawo yang rindang dan besar, sehingga cukup untuk menutupi bangku yang terbuat dari bambu di bawahnya. Tak lama kemudian terdengar suara manis “ini mas senternya udah jadi”. memang benar apa yang diceritakan pak Buh, gadis berambut lurus dan panjang ini memang cantik. ditambah kulitnya yang putih apalagi kalau sedang tersenyum membuat lelaki klepek-klepek deh. Tak heran banyak warga sekitar , terutama yang masih bujang mengincarnya untuk dijadikan istri. “o iya mba terimakasih, kalau ga ada senter ini bisa kesasar saya, wong jalannya aja saya ga apal” jawab saya. Dengan tersenyum dia mengembalikan senter saya sembari menjawab ” jangan panggil saya mba dong mas, saya masih semester tiga, panggil saja saya Dini”. OO ternyata gadis ini yang memakai rok ini Dini. “terimakasih ya Dini…..” percakapanpun berkembang. Kami duduk di bawah pohon sawo. tak terasa sudah pukul 17.00 saya harus segera turun gunung kalau tidak ingin ketinggalan bis langganan saya. “Dini maap saya harus segera turun ni, nanti ketinggalan bis”. “Biar saya antar mas, deket kok”. Akhirnya Dini mengantar saya sampai jalan raya. cukup berani bagi seorang gadis berjalan di jalan yang sepi sendirian. Ya mungkin karena dia sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. saya berharap esok hari bisa bertemu dengannya lagi.

Bersambung . . . . . . .

2 thoughts on “Si Mbarep yang tak pernah ada | Chapter 1 – siapa dia?

Mari ngobrol ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s